Free Short Story

Gara-gara kucing..

Sekarang pukul 16.45 saat ku menulis ini, aku begitu menggebu-gebu, tak tahan ingin bercerita. Saat pukul 14.00 tadi, aku berniat untuk berkunjung ke daerah Dago atas, maksudnya aku ingin menulis disana, bayangkanlah, menulis saja harus ke tempat jauh, padahal sudah sampai sana pasti aku akan sibuk update di sosial media dan menujukan sisi aesthetic dari tempat yang akan aku kunjungi tadinya, dan sekarang aku berakhir di gazebo rumahku, dengan keadaan gerimis sesudah hujan, aroma khas-nya cocok sekali dengan sore hari, taunya, aku tak perlu jauh-jauh ke Dago atas untuk mendapatkan suasana itu, disini sudah. 

Kembali lagi ke pembahasan awal, hari ini, sungguh aku dibuat risau, aku sedang bersandar di gazebo saat menulis ini, dan di sebrangku ada kucing kecil,umurnya sekitar 3 bulan, kau tahu, dia sedang tertidur di kursi depan rumahku, aku kasihan. Aku juga tak tega. Ceritanya, 6 hari yang lalu kudapati dia sedang berada di rumah tetanggaku, dengan keadaan perutnya yang buncit namun badannya yang sangat kurus, kurus sekali. 

Awalnya aku hanya melihat saja, hingga akhirnya aku tak kuat untuk tak memberinya makan, bayangkan, siapa tega yang melihat kucing sekecil itu sudah berkeliaran tanpa mamak-nya, juga dia terlihat sangat mandiri, menangis pun tidak. (Jika kau penyuka kucing, kau akan tahu seperti apa suara saat kucing menangis, meski tak mengeluarkan air mata, aku serius). 

Di pagi hari, tak sengaja aku melihatnya sedang mengendus-endus jalan, sepertinya dia sedang mencari sesuatu untuk sarapannya, tak tegalah aku, iba hati ini, risau hatiku sekakan kau cabik-cabik Ferguso.. Oke, kau pasti kesal dengan yang satu ini. (Jika kau kenal aku, aku senang bergurau, hehe)

Saat berjalan memasuki rumah, aku teringat, aku memiliki banyak sachet dari makanan kucing iyaa sebut saja itu whiskas (memang whiskas kok!), karena sebelumnya temanku datang ke rumah untuk memberikan hadiah whiskas untuk kucingku si Mengmong karena telah berhasil melahirkan anak-anak yang lucu.

Awalnya aku sangat takut dengan mahluk berbulu ini, hingga akhirnya ku temukan Mengmong jadi kucing peliharaan pertamaku (Mengmong bisa mengurus dirinya sendiri jadi tugasku hanya membelai dan memberinya makan yang kadang-kadang enak.) kapan-kapan akan aku ceritakan bagaimana aku menemukan si Mengmong ini. 

Kuambilah satu sachet whiskas dan kuberikan kepada si kucing kecil dengan perut besarnya itu, kau tahu awalnya dia takut saat ku dekati, hingga akhirnya dia sangat lahap makan makanan kucing itu, ya Allah.. kemana ibunya, mengapa dia terpisah begitu. Saat itu dipikiranku hanya memberinya makan saja, hingga setiap harinya ku dapati dia dengan keadaan yang sama, yakni mengendus jalan. Tak tega lah lagi aku, hingga tiap pulang kuberikan dia sosis, namun kenapa perutnya tetap besar, kata adikku, dia mungkin cacingan. 

Aku sudah terlalu banyak menampung kucing, terlebih karena si Mengmong ini telah melahirkan 4 anak kucing, jadi tak terlalu ku perhatikan si kucing kecil itu, hingga suatu hari dia sering datang ke rumahku, memanggil-manggil ketika aku lewat, miaw.. miaw.. miaw..ku usaplah kepalanya, kasian sekali kau nak, kau terbuang. Dia jadi sering bermain dengan anak-anak si Mengmong, pada awalnya si Mengmong tak suka dan suka memeranginya, wajar itu sifat alamiah kucing, jangankan kucing, manusia pun mungkin akan berhati-hati, mungkin itu yang ada di pikiran si Mengmong. 

Tak pikir panjang, jadwal saat ku memberi makan Mengmong, menjadi jadwal yang sama si kucing kecil menerima makan, dia jadi sering tidur di rumah, beberapa hari awalnya tak apa, hingga akhirnya..

*** 

Subuh, saat om-ku sedang menyapu taman, aku sedang mengepel lantai dan masih terkantuk-kantuk, tiba-tiba om-ku berkata “Tai kucing itu kau saja yang buang,” katanya. Mulanya aku hanya sedikit kaget, dan sedikit bergumam, perasaan kucing-kucing kecil ini belum bisa membuang tai, pun sebaliknya, si Mengmong tak pernah membuang tai di sekitaran rumah. 

Tak pikir panjang, ku bereskan tempat kucing itu, tiba-tiba, om-ku berkata kembali “Itu tai yang di bawah gazebo, bersihkanlah juga, om tidak akan membersihkannya karena bau,” ungkapnya, buru-buru dia menyeru adikku yang sedag menghafal karena siangnya hendak UTS, “Hey dek, bentulah kakakmu bersihkan ini, pinjam pacul ke tetangga,” katanya kesal. Aku sedikit ingin menangis disuruh membersihkan tai kucing itu, karena aku tak kenal ulah siapa itu, mulanya om-ku tidak keberatan ketika membersihkan seluruh taman, namun mungkin dia sudah kesal pagi harinya rusak karena tai itu. 

Aku jadi tak karuan (karena tai kucing), kecurigaanku tertuju kepada si kucing kecil itu, karena dia sudah bisa makan, tak seperti anak-anak Mengmong yang masih menyusui, dan baru bisa pipis saja. Hmmmm, ternyata kau kucing kecil, yang membuatku menjadi overthingking (serah). Kau tau, aku ini seorang yang tidak enakan akan hal apapun jika menyangkut emosi orang lain, hingga siang harinya orang rumah yang lainnya ikut kesal karena taman menjadi bau tai kucing. 

Ya tuhan, disana aku sempat berfikir, apa yang harus aku lakukan dengan si kecil tak berdosa ini, tak tega aku jika tak memberinya makan lagi, tak tega aku jika harus mengusirnya, tak tega aku jika harus membuangnya ke pasar, wajahnya yang nyaris tak ada daging, pinggiran matanya yang dikelilingi lingkaran hitam, terbayang sudah rupanya di pikirannku, malang nasibmu nak..

***

Pikirku, janganlah berlebihan menyikapi sesuatu, terlebih ini makhluk tuhan, terlebih lagi dia sebatangkara, kucing jika lucu di datangi, sudah tau jeleknya kau marahi, bahkan tak jarang kau tendang, dia cuma buang hajat, biarlah jadi urusannku menaburi setiap tanah yang terkena hajatnya dengan abu gosok… (AGAR TIDAK BAU)

Bukan aku yang ingin dia datang, kau tau, aku pernah membaca kutiapan yakni “Kamu gak adopt kucing, tapi kucing yang adopt kamu.” Ini sudah nasibnya dia berada di sekitarku, terlepas dari aku memberinya makan, jika dia enggan, dia tak akan datang.. 

Temanku bilang, ini cobaan pertama saat kau merawat kucing. Begitu ya..

(Fyi: selesainya aku menulis tulisan ini, dia masih tertidur di kursi depan rumah)

(26/11/2018) Zaira

Comments

Popular Posts