This was me
Ingatan Hati.
Di tengah meja besar, di tengah ruangan rumah, meja dari
kayu jati diselimuti cat berwarna coklat, ditengahnya aku terduduk, di atas
kursi hitam yang tidak cukup empuk jika hendak digunakan bersantai, maka hanya
digunakan saat belajar aku dan adikku. Iya, aku memang sedang tidak belajar
sekarang, namun ku teringat, apa yang ingin kutuangkan dalam tulisan ini,
tadinya aku hanya bersantai di atas kasurku sambil lalu dengan gawaiku.
(Sekarang malam hari,
tepat pukul 22.00 ku padukan sepuluh jari tanganku dengan keyboard laptop
berwarna putih, ini tidak akan banyak!)
Apa yang lebih buruk yang pernah kau jalani? Kau tahu, abai
dan tak hirau pada diri sendiri yang membuatku hingga kini merasa ingkar dengan
tujuan. Apa yang lebih buruk yang pernah kau jalani? Tak pernah berbicara dan
berdiskusi dengan mereka yang kerap memberiku ‘bekal’ hingga di umurku
sekarang, 22 tahun. Ya, orang tua.
Raga ini tak membiarkan hati dan pikiran menyatu, bayangkan,
raga saja tak mampu melakukannya, raga ini tak membiarkan apa yang aku sukai
hingga sampai akhirnya tak pernah ku lakukan di umurku sekarang, 22 tahun. Contohnya
saja, bisa jadi aku ingin bisa berenang, agar aku bisa percaya diri jika
temanku membawaku ke wahana air itu, atau bahkan aku ingin makan sayur, si
hijau dan teman-temannya, kasihan tubuhku ini perlu sentuhan hijau. Atau bahkan
saat idolaku bernyanyi di atas panggung dengan ribuan kemeriahan, tak bisakah
aku tidak hanya menonton, tak bisakah aku menciptakan sesuatu yang hebat dan
tidak hanya menjadi si konsumtif-nya produsen. Tapi seperti yang telah aku
katakan. Raga ini tak membiarkan hati dan pikiran menyatu.
***
Semua itu aku jalani selama 17 tahun terakhir, membuat diri
ini kian lemah jika di gertak dan di bentak. Membuatku sukar berbicara dengan
orang yang ’lebih’ hingga memiliki perasaan yang lebih peka dibanding yang
lainnya, sejujurnya aku tak suka, namun itu yang diinginkan raga ini. Seperti
terbelenggu. Iya, situasi selama 17 tahun terakhir menjadi ‘rantai’ dari ragaku
ini, sulit dilepaskan. Namun, aku
berbangga diri, selama 17 tahun terakhir tak pernah aku melawan orang tua
bahkan jika aku tak salah, aku serius. Itu aku.
Tulisan di atas itu benar adanya, yang kulakukan hanya
memperhatikan dan diam, tak melakukan apa-apa, tak merealisasikan apa yang hati
dan pikiran hendaki, aku hanya membuang-buang waktu, penuh kesia-siaan. Hanya
bersembunyi di tubuh kurus ini. Di dalamnya tahu, dunia terbentang dengan
luasnya, langit memaparkan harapan-harapan bagi manusia, namun hey, aku masih
disini saja, tak hirau.
Begitulah, hingga akhirnya kau harus melepaskan si belenggu,
alias sang raga yang egois itu tahun demi tahunnya. Sedikitnya, di umur 22
tahunku ini, aku sudah meniti secerca harapan. Sedikit demi sedikit – iya, aku
bisa. Kau mungkin berfikir mengapa se-egois itu ragaku ini, ini bermula dari
ketakutan yang tidak berujung akan kekurangan yang kau miliki, tak membiarkan
rasa percaya diri tumbuh dan kuat hingga di akarnya, kau tidak berani.
Kuncinya, kau harus mencari, sadarlah, waktu terus berputar,
kau punya tuhan yang setiap detiknya mengamati, kau punya bagian hidup yang
harus kau banggakan. Hanya berjalan, tak perlu dipikirkan dan banyak diambil ke
hati karena jika iya raga ini terus menekan, itu dan ini. Tak perlu banyak-banyak,
perlahan saja, karena hidup berbicara tentang pengalaman dan ketulusan, dan
bukan soal materi. Tak perlu diliputi keraguan, karena semua sudah ada di
tangan-Nya, teman yang baik, makanan yang enak, tempat tidur yang nyaman,
harusnya sudah tak ada hambatan lagi.
***
Ini ingatan dari hatiku untuk ragaku, khususnya aku, boleh
jadi untuk kamu yang mengerti ini. Kau harus selalu percaya, tuhan sudah
siapkan, tak lihat apa kurangmu, cari apa yang lebih itu, karena kamu yang
lebih tau... (/22/11/18)/Zaira.



Oh, umurnya udah 22 yah..😀
ReplyDeleteIya, 22 tahun lebih 2 bulan. Hahaha
DeleteLebih 2 belas bulan kali... Hahaha
Delete